Halaman

Minggu, 20 Januari 2013

MAKALAH KEPEMIMPINAN



KEPEMIMPINAN

I.          PENDAHULUAN
Dalam kenyataannya para pemimpin dapat pempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka.
Kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam mengarahkan adalah faktor penting efektifitas manajer. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas-kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menseleksi pemimpin-pemimpin akan meningkat. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasikan perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan efektif, organisasi barangkali akan dapat mempelajari berbagai perilaku dan teknik tersebut, oleh karena itu akan dicapai pengembangan efektifitas personalia dalam organisasi. 
         
II.       PERMASALAHAN
A.    Tipe-tipe Kepemimpinan
B.     Teori Munculnya seorang pemimpin
C.     Delegasi Wewenang bagi kepemimpinan yang sukses dan kepemimpinan yang efektif

III.    PEMBAHASAN
A.    Tipe-tipe Kepemimpinan
Seperti manajemen kepemimpinan telah didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pul. Menurut Stoner, kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Ada tiga implikasi penting dari definisi tersebut:
Pertama, kepemimipinan menyangkut orang lain bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk mengikuti pengarahan dari pemimpin, para anggota kelompok membantu menentukan status atau kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan. Tanpa bawahan semua kualitas kepemimpinan seorang manajer akan menjadi tidak relevan.
Kedua, kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Para pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan berbagai kegiatan para anggota kelompok, tetapi para anggota kelompok tidak dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan pemimpin secara langsung, meskipun dapat juga melalui sejumlah secara tidak langsung.
Ketiga, selain dapat memberikan pengarahan kepada para bawahan atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh. Dengan kata lain pemimpin tidak hanya memerintah bawahan apa yang harus dilakukan tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahanmelaksanakan perintahnya. Sebagai contoh seorang manajer dapat mengarahkan seorang bawahan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu, tetapi dia dapat juga mempengaruhi bawahan dalam menetukan cara bagaimana tugas itu dilaksanakan dengan tepat.
Kepemimpinan adalah bagian penting manajemen, tetapi tidak sama dengan manajemen. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Amanjemen mencakup kepemimpinan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain seperti perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan.   
         
B.     Teori Munculnya Seorang Pemimpin
Kesuksesan dan kegagalan suatu organisasi selalu dhubungkan dengan kepemimnan namun sebenarnya kepemimpinan itu sendiri masih merupakan suatu konsep yang sulit diterangkan atau sebuah “kotak hitam” yang sangat indah.
Dua belas pasangan dengan produkstivitas tinggi dan rendah dipilih untuk diuji. Wawancara bebas dilakukan terhadap 24 mandor seksi dan 419 pekerja administrasi. Hasilnya menunjukan bahwa para mandor yang bekerja pada seksi “high producing” lebih menyukai:
a.    Untuk menerima pengendalian yang lebih bersifat umum daripada yang khusus.
b.    Sejumlah wewenang dan tanggungjawab yang mereka punyai dalam pekerjaannya.
c.    Mempergunakan waktunya untuk pengendalian.
d.   Memberikan pengendalian lebih umum kepada para karyawannya daripada khusus.
e.    Orientasi lebih pada karyawan daripada orientasi produksi.
Sedangkan bagi para mandor yang bekerja pada seksi “low producing” mempunyai ciri-cri dan teknik-teknik yang berlawanan, yaitu pengendalian khusus dan orientasi pada produksi. Penemuan lain yang penting. Tapi kadang-kadang diabaikan, adalah bahwa kepuasan karyawan tidak berhubungan secara langsung dengan produktivitas.
     Ketiga studi tersebut merupakan studi terpenting tentang kepemimpinan dalam mempelajari perilaku organisasi. Sebelum mencoba untuk menganalisa kedudukan kepemimpinan suatu organisasi, kita perlu menelusuri perkembangan teori kepemimpinan terlebih dahulu.

Ø  Teori Sifat Kepemimpinan
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan mulai dengan memusatkan perhatian pada para pemmipin itu sendiri. Pertanyaan penting yang coba dijawab pendekatan teoritik ini adalah apa ciri-ciri atau sifat-sifat yang membuat seseorang menjadi pemimpin?, teori-teori sifat yang dapat ditelusuri kembali sampai jaman kerajaan Yunani dan Romawi, mengemukakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dibuat. Teori ini sering disebut juga teori “great men”, lebih lanjut menyatakan bahwa seseorang itu dilahirkan membawa atau tidak membawa ciri-ciri atau sifat-sifat yang diperlukan bagi seorang pemimpin, atau dengan kata lain, individu yang lahir telah membawa ciri-ciri tertentu yang memungkinkan dia dapat menjadi seorang pemimpin.
Kepemimpinan adalah suatu fungsi kualitas seseorang individu, bukan fungsi situasi, teknologi, atau dukungan masyarakat. Hal ini mengandung pengertian dasar bahwa penelitian-penelitian kepemimpinan selalu ondong menyatakan bahwa individu merupakan sumber kegiatan-kegiatannya. Atas dasar pendapat ini, para teoritisi sifat kepemimpinan  berusaha untuk mempelajari sejarah pemimpin-pemimpin besar, seperti Napoleon, Hitler, Mao Tse Tung, Mahatma Gandhi dan sebagainya, untuk menemukan ciri-ciri yang dimliki mereka. Sebagai contoh yang dimlki Napoleon diteliti ciri-ciri kepemimpinan alamiah yang mampu membangkitkan situasi dan menjadi pemimpin besar.
Disamping pertanyaan pertama diatas para teoritisi sifat juga mencoba menjawab dua pertanyaan pokok lainnya yang muncul. Apa yang membedakan pemimipin dan pengikut?, dan apa yang membedakan pemimpin-pemimpin lebih “baik” daripada yang lainnya?. Penelitian telah dilakukan terhadap ciri-ciri fisik, mental dan kepribadiansejak sekitar tahun 1930 sampai dengan 1950. Hasilnya menyatakan bahwa hanya ciri intelegensia atau kecerdasan yang mempunyai derajat konsistensi yang tinggi, kemudian disusul dengan inisiatif, orang yang mementingkan hal-hal lahriah (extroversion), rasa humor, antusianisme, keadilan dan kejujuran, simpati, serta kepercayaan diri.
Keith Davis mengikhtsiarkan ada 4 ciri utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan dalam organisasi:
a)      Kecerdasan (intelegence). Penelitian-penelitian pada umumnya menunjukan bahwa seorang pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya, tetapi tidak sangat berbeda.
b)     Kedewasaan sosial dan hubungan sosial yang luas. Pemimpin cenderung mempunyai emosi yang stabil dan dewasa atau matang, serta mempunyai kegiatan-kegiatan dan perhatian yang luas.
c)      Motovasi diri dan dorongan berprestasi. Pemimpin secara relatif mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi. Mereka bekerja keras lebih untuk nilai intrinsik daripada ekstrinsik.
d)     Sikap-sikap hubungan manusiawi. Seorang pemimpin yang sukses akan mengakui harga diri dan martabat pengikut-pengikutnya, mempunyai perhatian yang tinggi dan berorientasipada karyawan.
Ciri-ciri yang dikemukakan Darwin diatas hanyalah salah satu daftar diantara banyak kemungkinan sifat-sifat penting kepemimpinan organisasional. Meskipun seseorang dapat memperoleh data-data riset untuk mendukung sifat-sifat pada daftar Davis atau ahli lain, sampai sekarang tidak ada yang konklusif. Teori sifat kepemimpinan ini lebih bersifat deskriftif tetapi dengan nilai analitis dan prediktif yang rendah.
     
Ø  Teori Kelompok
Teori kelompok dalam kepemimpinan dikembangkan atas dasar ilmu psikologi sosial. Teori ini menyatakan bahwa untuk pencapaian tujuan-tujuan kelompok harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dan bawahannya. Kepemimpinan itu merupakan suatu proses pertukaran antara pemimpin dan pengikutnya, yang juga melibatkan konsep sosiologi tentang peranan yang diharapkan kedua belah pihak. Penelitian psikologi sosial dapat digunakan untuk membantu peranan konsep pertukaran dan peranan tersebut pada proses kepemimpinan. Hal ini tampak pula dari hasil studi Ohio State khususnya dimensi pemberian perhatian pada para bawahan yang akan memperluas pandangan kelompok terhadap kepemimpinan.
Bila kita lihat kembali penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, kita akan menemui data-data yang menunjukkan bahwa para pemimpin yang selalu memperlihatkan dan memperhitungkan bawahannya. Hal ini mempunyai dampak positif pada sikap, kepuasan, dan pelaksanaan kerja. Tetapi bagaimanapun juga, tanpa mengurai arti penemuan ini, terdapat kenyataan bahwa masih terdapat variabel-variabel penting lainnya dalam proses kepemimpinan, seperti ciri-ciri seorang pemimpin adn variabel-variabel situasional.     
 
Ø  Teori Situasional
Setelah baik pendekatan sifat maupun kelompok terbukti tidak memadai untuk mengungkap teori kepemimpinan yang menyeluruh, perhatian dialihkan pada aspek-aspek situasional kepemimpinan. Dimulai pada tahun 1940-an, para ahli psikologi sosial melakukan penelitian untuk mencari variabel-variabel situasional yang mempunyai dampak pada peranan-peranan, ketrampilan-ketrampilan, dan perilaku kepemimpinan serta terhadap pelaksanaan atau prestasi dan kepuasan kerja para bawahannya.
Fred Fiedler telah mengajukan sebuah model dasar situasional bagi efektifitas kepemimpinan yang dikenal sebagai contingency model of leadership effektiveness. Model ini menjelaskan hubungan antara gaya kepemimpinan dan situasi yang menguntungkan atau menyenangkan. Situasi-situasi tersebut dgambarkan oleh Fidler dalam tiga dimensi empirik yaitu, 1) hubungan pimpinan anggota; 2) tingkat dalam struktur tugas; dan 3) posisi kekuasaan pemimpin yang didapatkan melalui wewenang formal. Situasi-situasi itu menguntungkan bagi pemimpin bila ketiga dimensi di atas adalah berderajat tinggi. Bila situasi terjadi sebaliknya maka akan sangat tidak menguntungkan bagi pemimpin. Atas dasar penemuannya, Fidler berkeyakinan bahwa situasi-situasi menguntungkan yang dikombinasikan dengan gaya kepemimpinanakan menentukan yang dikombinasikan dengan gaya kepemimpinan akan menentukan efektifitas pelaksanaan pekerja kelompok.
        
Ø  Teori Path Goal
Telah diakui secara luas bahwa teori kepemimpinan dikembangkan dengan dikembangkan dengan mempergunakan kerangka dasar teori motivasi. Ini merupakan perkembangan yang wajar, sebab kepemimpinan itu erat hubungannya dengan motivasi disatu pihak dan dengan kekuasaaan dipihak lain. Teori path goal ini menganalisa pengaruh (dampak) kepemimpinan (terutama perilaku pemimpin) terhadap motivasi bawahan, kepuasan dan pelaksanaan kerja. Teori ini memasukkan empat tipe atau gaya pokok perlaku pemimpin yaitu:
1.      Kepemimpinan direktif
Bawahan tahu secara jelas apa yang diharapkan dari merka dan perintah-perintah khusus yang diberikan oleh pemimpin. Disini tidak ada partisipasi oleh bawahan(pemimpin yang otokratis). Hasil penemuan menyatakan bahwa gaya kepemimpinan diterektif mempunyai hubungan yang positif dengan kepuasan dan harapan bawahan yang melakukan pekerjaan yang mendua (ambiguous), dan mempunyai hubungan yang negatif dengan kepuasan dan harapan bawahan yang melakukan tugas-tugas jelas.   
2.      Kepemimpinan suportif
Pemimpin yang selalu bersedia menjelaskan, sebagai teman mudah didekatidan menunujukan diri sebagai orang sejati bagi bawahan. Gaya kepemimpinan ini mempunyai pengaruh yang sangat positif pada kepuasan bawahan yang bekerja dengan tugas-tugas yang penuh tekanan, frustasi, dan tidak memuaskan.
3.      Kepemimpinan partisipatif
Pemimpin meminta dan menggunakan saran-saran bawahan, tetapi masih membuat keputusan. Kebanyakan studi dalam organsasi industri manufaktur yang menyimpulkan bahwa dalam tugas-tugas yang tidak rutin karyawan lebih puas di bawah pimpinan yang partisipatif daripada yang non-partisipatif.   
4.      Kepemimpinan orientasi prestasi
Pemimpin mengajukkan tantangan-tantangan dengan tujuan yang menarik bagi bawahan dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta melaksanakannya dengan baik. Diperoleh penemuan bahwa untuk bawahan yang melaksanakan tugas-tugas mendua dan tidak rutin, makin tinggi orientasi pemimpin akan prestasi, makin bawahan yang percaya bahwa usaha mereka akan menghasilkan pelaksanaan kerja yang efektif.
Jadi gaya-gaya kepemimpinan ini dapat dipergunakan oleh pemimpin yang sama dalam berbagai situasi yang berbeda. Baik model Fedler maupun teori Path goal memasukan tiga variabel penting dalam kepemimpinan, yaitu: pemimpin, kelompok, dan situasi.[1]    
  
C.    Delegasi Wewenang bagi kepemimpinan yang suksesdan kepemimpinan yang efektif
Delegasi wewenang adalah pelimpahan atau pemberian otoritas dan tanggung jawab kesatuan organisasi kepada seseorang atau kesatuan organisasi kepada seseoarang atau kesatuan organisasi lain untuk melakukan aktivitas tertentu. Hal ini didasarkan bahwa pada esensinya hampir tidak ada seorang manajer yang dapat secara pribadi menyelesaikan secara penuh menyelia seluruh tugas organisasi. Dengan demikian terlihat, betapa pentingnya delegasi wewenang oleh manajer kepada bawahan demi efesiensi fungsi setiap organisasi.
Pada esesiennya bahwa baik kepemimipinan yang sukses maupun kepemimpinan yang efeketif melakukan delegasi wewenang meskipun kedua kepemimpinan tersebut frekuensi pelaksanaannya tidak sama. Karena memang keduanya berbeda. Kepemimpinan yang sukses tampak pada kepemimpinan manajer mempengaruhi bawahan untuk mengerjakan suatu tugas. Apabila bawahan mnegerjakan tugas tersebut berati manajer sukses dalam kepemimpinannya, tetapi hal tersebut tidaklah efekitf. Apabila bawahan mengerjakan tugas tersebut dengan rasa ketidak senangan, dan melakukan tugas tersebut hanya karena otoritas seorang manajer maka manajer tersebut sukses dalam kepemimpinannya. Akan tetapi kepimpinannya tidak efektif. Apabila bawahan merespon karena merka ingin melakukan tugas tersebut dan menemukan kompesensinya, tetapi dari otoritas mempribadi, lalu bawahan menghormati, patuh, dan taat kepada manajer, dan dengan senang hati bekerja sama dengannya, kemudian merealisasikan bahwa permintaan manajer konsisten dengan beberapa tujan pribadinya tersalur dengan menyelengarakan aktivitas tersebut.
 Kepemimpinan yang sukses berusaha bagaimana menguasai para bawahan secara individu maupun kelompok. Sebaliknya, kepemimpinan yang efektif melukiskan kondisi internal atau predisposisi bawahan secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu sikap dan perilaku tersebut alamiah. Manajer yang hanya tertarik pada kesuksesan, cenderung pada otoritas dan posisi. Berbeda halnya dengan manajer yang efektif, meraka selain berpegang pad otoritas dan posisi pribadi juga ditandai oleh penyeliaan yang lebih umum.
 Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa manajer tersebut hanya memilki pengaruh yang relatif pendek terhadap sikap dan perilaku bawahan,. Sebaliknya manajer yang sukses kepemimpinannya dan efektif, pengaruh manajer tersebut cenderung jauh lebih lama dalam pengembangan dan kontinuitas organisasi.
Sampai sejauh mana manajer mendelegasikan wewenag pengaruh oleh faktor-faktor kultur organisasi, situasi spesifik yang terlibat, hubungan kepribadian, dan kemampuan para individu dalam situasi tersebut. Terdapat bebrapa faktor kontigensi yang perlu dipertimbangkan kontigensi yang perlu dipertimbangkan oleh manajer dalam memutuskan apa dan berapa banyak mendelegasikan wewenang
Pada dasarnya pelimpahan wewenagn dan tanggungjawab, baik bagi manajer yang sukses maupun manajer yang efektif didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut.
v  Agar organisasi dapat menggunakan sumber dayanya secara efesien, tanggung jawab atas tugas yang ditail yang dilimpahkan kepada hierarki oerganisasi yang paling bawah yang mempunyai kemampuan dan informasi yang cukup untuk pelaksanaan tugas tugas tersebut secara kompeten. Dampak yang diharapkan atas konsep ini agar setiap inidividu dalam organisasi dapat melaksanakan tugas secara efektif, ia harus dilimpahi wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan hal itu.
v  Agar delegasi wewenang dan tanggung jawab berlangsung secara efektif, para anggota organisasi harus tahu eksistensi mereka dalam suatu rantai komando. Prinsip ini mempertegas bahwa dalam suatu organisasi harus terdapat garis wewenang dan tanggung jaawab yang jelas dan kronologis dari hierarki yang paling tinggi sampai pada hierarki paling rendah.
v  Agar delegasi wewenang dan tanggung jawab berlangsung secara efektif, setiap anggota organisasi harus melapor hanya kepada satu atasan. Melapor kepada lebih dari satu atasan  mendorong individu untuk menghindar tanggung jawab karena dengan mudah individu tersebut menyalahkan kinerjanya yang rendah dengan alsan bahwa dengan beberapa atasan berarti ia harus mengoperasikan beberapa pekerjaan yang diberikan kepadanya.[2]        
IV.    KESIMPULAN
Kepemimpinan adalah suatu pertumbuhan alami dari orang-orang yang berserikat untuk suatu tujuan dalam suatu kelompok. Beberapa orang dalam kelompok itu akan memimpin, bagian terbesar akan mengikuti. Sebenarnya, kebanyakan orang menginginkan seseorang untuk menentukan apa yang harus diperbuat dan bagaimana membuatnya. Seorang pemimpin menerima tanggung jawab dan berhasrat untuk menjalankan keputusan-keputusan untuk persoalan-persoalan itu. Seoarng pemimpin mengenal dan memehami kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang yang bukan pemimpin.
Seorang pemimpin melaksanakan rencana-rencana jadi kegiatan dan memberikan sumbangannya untuk menjdaikan sebuah rencana suatu kenyataan. Pemimpin itu menyampaikan rencana itu kepada sekutu-sekutunya, menjelaskan maksud dari kegiatan itu, mengatakan apa yang akan dibuat oleh setiap anggota, berusaha untuk membangkitkan kegembiraan, dan berusaha untuk menyelesaikan setiap perselisihan dikalangan anggota-anggotanya. Pada dasarnya seorang pemimpin memotivasikan dan membimbing perilaku anggotanya bukan pemimpin untuk memenuhi rencana itu dan menyelesaikan pekerjaan yang dikehendaki itu.[3]      
         
V.       PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami susun sebagai bahan diskusi pada mata kuliah pengantar manajemen. Besar harapan kami, semoga makalah ini memberi sesuatu yang bermakna dan bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya, untuk itu penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Reksohadiprojo, Sukanto dan Handoko, T.Hani, Organisasi Perusahaan, Yogyakarta: BPFE, Edisi 2,1982
Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara, Cet.5, 2009
R. Terry, George dan W. Rue, Leslie, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: Ikrar  Mandiri Abadi, Cet.11, 2009


[1] Sukanto Reksohadiprojo dan T.Hani Handoko, Organisasi Perusahaan, Yogyakarta: BPFE, Edisi 2,1982. Hlm 287-295
[2] Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara, Cet.5, 2009, hlm. 163-164
[3] George R. Terry dan Leslie W. Rue, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi, Cet.11, 2009. Hlm 192-193.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

saran dan kritik (yang membangun)